KUMPULAN TULISAN 25

Inspirasi, Kajian, dan Literasi Masa Kini

Dongeng Fabel : Mempermainkan Tanda Bahaya

yoyok dwi saputro

KUMPULAN TULISAN 25

April 20, 2019 Update : May 07, 2026
Cerpen fabel suasana saat penduduk mengabaikan permintaan tolong si anak gembala
Setiap tindakan yang tidak bertanggung jawab akan membawa konsekuensi berat yang harus dipikul sendiri di kemudian hari.

DONGENG FABEL | MEMPERMAINKAN TANDA BAHAYA - Pada suatu hari hiduplah seorang anak gembala. Kedua orang tuanya sudah meninggal, dan ia bekerja pada seorang bangsawan sebagai pengembalanya. bangsawan itu mempunyai domba-domba yang banyak dan domba itu diserahkan kepada si anak.

Sang bangsawan itu mengajarkan sesuatu kepada si anak yaitu, “kalau kau melihat serigala yang hendak memakan dombamu, segeralah berlari ke arah penduduk desa menyelamatan domba itu lalu berteriaklah; “ada serigala..ada serigala…sekeras-kerasnya!”

Tibalah suatu hari saat ia menggembalakan dombanya ke padang rumput yang terletak di pinggir hutan. Domba-domba itu sungguh nampak senang dan lahap memakan rerumputan nan hijau. Si anak gembala pun merasa gembira menyaksikan pemandangan itu.

Entah apa yang melatar belakanginya, timbul niat si Anak gembala ini untuk berbuat iseng. Ia ingin megetahui apa reaksi penduduk desa manakala mendengar teriakan “ Ada serigala,ada serigala!?”

Maka segera ia berlari ke arah penduduk desa sambil berteriak senyaring-nyaringnya;

“Tolong aku..! ada serigala!! ada serigala!!”

Benar saja, seperti yang dikatakan oleh majikannya. Demi mendengar teriakan minta tolong itu, penduduk desa langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan mengambil senjata. Mereka langsung menghampiri si anak gembala dan bertanya,

“kau baik-baik saja nak? mana serigalanya?”

Mendengar itu si anak pun langsung tertawa terbahak-bahak. Penduduk kampung menjadi heran dengan ulah si Anak gembala itu. Setelah menyadari bahwa mereka hanya tertipu, maka dengan kesal masyarakat itupun kembali ke kebunnya masing-masing melanjutkan pekerjaan.

Keesokkan harinya ia melakukan hal yang sama. dan kali ini ia membawa seekor dombanya yang telah ia olesi lumpur. serigala yang kotor ini akan di sangka warga hampir di makan serigala! pikirnya. Dan kemudian ia pun berteriak,

“ada serigala!! ada serigala!!”

dan seperti biasa penduduk desa pun segera menghampirinya.namun yang mereka lihat hanya si anak yang tertawa terbahak-bahak.

Namun keesokan harinya saat ia akan menipu warga lagi, munculah beberapa ekor serigala menghampirinya melihat itu ia pun takut dan berlari kedesa.

“ada serigala!! ada serigala!! tolong aku!!”

namun ketika ia berteriak sampai suaranya serak dan mengecil pun tak ada seorang penduduk desa pun yang mempedulikannya.

“kami tak akan pernah tertipu lagi dengan kebohonganmu!” teriak seorang warga dan kemudian menggebrakkan menutup pintu rumah masing-masing.

Habislah serigala menyantap domba-dombanya, sedangkan sang anak dihukum berat oleh karena mempermainkan tanda siaga bahaya. Anak itu berjalan meminta maaf kepada penduduk desa dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.

Analisis Unsur Intrinsik Cerita

1. Judul Cerita
Mempermainkan Tanda Bahaya (Pelajaran tentang Kejujuran dan Kepercayaan)
2. Tema
Konsekuensi dari Kebohongan dan Hilangnya Kepercayaan.
Alasan: Cerita ini secara mendalam membahas bagaimana perilaku bohong yang dilakukan berulang kali akan menghancurkan kepercayaan orang lain (trust issues), sehingga saat kebenaran benar-benar terjadi, tidak ada lagi yang bersedia membantu.
3. Tokoh / Penokohan
  • Anak Gembala: Seorang yatim piatu yang bekerja pada bangsawan. Ia memiliki sifat iseng, tidak bertanggung jawab, dan suka meremehkan peringatan penting demi kesenangan pribadi.
  • Penduduk Desa: Sosok yang solider, penolong, dan responsif terhadap tanda bahaya, namun akhirnya menjadi skeptis dan tegas setelah merasa dikhianati oleh kebohongan yang berulang.
  • Bangsawan (Majikan): Sosok yang memberikan amanah dan petunjuk keselamatan, namun tegas dalam memberikan sanksi atas kelalaian.
  • Serigala: Antagonis alami yang menjadi ancaman nyata bagi keselamatan domba-domba.
4. Latar (Setting)
  • Tempat: Padang rumput di pinggir hutan (tempat penggembalaan) dan desa tempat penduduk tinggal.
  • Waktu: Beberapa hari berturut-turut (pagi hingga siang hari).
  • Suasana: Awalnya damai dan gembira, berubah menjadi riuh (saat warga tertipu), dan berakhir mencekam serta penuh penyesalan (saat bantuan tak kunjung datang).
5. Alur (Plot)
Alur Maju. Dimulai dari pemberian tugas oleh Bangsawan, aksi kebohongan pertama dan kedua sebagai eksperimen keisengan, munculnya bahaya nyata (serigala asli), penolakan warga untuk membantu, hingga akhirnya anak gembala kehilangan domba-dombanya dan menerima hukuman.
6. Sudut Pandang
Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu.
Pengarang menceritakan segala hal, mulai dari niat iseng di dalam hati si anak gembala, reaksi kemarahan warga desa di balik pintu, hingga perasaan takut yang dialami si anak saat serigala benar-benar datang.
7. Amanat
  • Kejujuran adalah modal utama dalam hubungan sosial. Sekali kita berbohong dan menghilangkan kepercayaan orang lain, sulit untuk mendapatkannya kembali meskipun kita sudah berkata jujur.
  • Jangan pernah mempermainkan sesuatu yang bersifat darurat atau tanda bahaya sebagai lelucon, karena keselamatan nyawa dan harta benda bukanlah hal yang bisa dijadikan candaan.
  • Setiap tindakan yang tidak bertanggung jawab akan membawa konsekuensi berat yang harus dipikul sendiri di kemudian hari.
  • Meminta maaf adalah langkah awal yang baik untuk memperbaiki diri, namun mencegah kebohongan jauh lebih baik daripada harus menanggung akibatnya.
Anda telah menyelesaikan 11 dari 45 Dongeng Fabel Pilihan
22%

Baca Fabel lainnya ?

0 Komentar

Aturan Berkomentar:

  • Gunakan bahasa yang sopan dan santun ya.
  • Tanya atau komentar yang nyambung dengan materi.
  • Jangan titip link iklan atau jualan.
  • Hargai teman dan jangan saling mengejek.
  • Admin akan cek komentarmu sebelum ditampilkan agar diskusi kita tetap seru!

Post a Comment