Pernahkah kamu mendengar dua temanmu berdebat sengit setelah menonton pertandingan futsal antar-kelas? Siswa A berkata, "Pertandingannya seru banget, tim kita mainnya keren!" Sementara siswa B menggerutu, "Pertandingannya kacau dan membosankan, wasitnya curang!"
Keduanya menonton pertandingan yang persis sama di lapangan yang sama, tapi komentarnya bisa bertolak belakang. Mengapa? Karena keduanya sedang menyampaikan opini, bukan fakta. Bagi seorang jurnalis sekolah, membedakan dua hal ini adalah keahlian wajib nomor satu sebelum mulai menulis berita.
Cara Membedakan Opini dan Fakta
Fakta: Realitas yang Tak Terbantahkan
Fakta adalah kenyataan yang benar-benar terjadi, bisa dibuktikan dengan data, dapat dihitung, atau disaksikan langsung oleh panca-indra. Fakta tidak peduli apakah kita menyukainya atau tidak—fakta tetaplah kebenaran yang berdiri sendiri.
- Dapat Diukur: Memuat angka, waktu, tempat, nama, atau durasi yang pasti.
- Bisa Diverifikasi: Siapa pun yang mengecek ulang akan menemukan hasil yang sama.
- Bebas Emosi: Tidak mengandung kata sifat yang menghakimi.
Contoh Fakta: "Babak final futsal berakhir dengan skor 3–2 untuk kemenangan Kelas 8A, setelah wasit meniup peluit panjang tepat pada menit ke-40."
Opini: Sudut Pandang dan Perasaan Pribadi
Opini adalah penilaian, anggapan, rasa suka/tidak suka, atau kesimpulan subjektif seseorang terhadap suatu hal. Apa yang terasa "keren" menurutmu belum tentu terasa sama bagi teman sebelah bangkumu.
Ciri khas opini adalah sering menggunakan kata sifat relatif yang tidak punya ukuran pasti, seperti: sangat bagus, membosankan, parah, keterlaluan, ganteng, lezat, mengecewakan, atau hebat.
Contoh Opini: "Kantin sekolah hari ini jorok sekali dan makanannya sama sekali tidak enak."
Menjaga Objektivitas: Kamera, Bukan Cermin
Dalam jurnalistik, dalam membedakan opini dan fakta ada istilah bernama objektivitas. Bayangkan dirimu sebagai kamera, bukan cermin. Cermin memantulkan kembali wajah dan perasaan kita sendiri, sedangkan kamera merekam apa adanya apa yang tertangkap lensa tanpa ikut campur memberi komentar.
Menjadi objektif artinya menahan diri untuk tidak memasukkan prasangka atau penilaian pribadi ke dalam laporan berita.
| Kalimat Subjektif (Prasangka Penulis) | Kalimat Objektif (Pandangan Mata Faktual) |
| "Pentas seni sekolah sangat membosankan karena penontonnya sedikit." | "Pentas seni dihadiri sekitar 45 penonton di aula berkapasitas 200 kursi." |
| "Pak Budi marah-marah tanpa alasan yang jelas di depan kelas." | "Pak Budi menegur tiga siswa yang bermain gawai saat jam pelajaran berlangsung." |
| "Antrean kantin kacau balau karena penjualnya sangat lambat." | "Antrean di stan mi ayam mencapai 15 meter pada pukul 10.15 WIB." |
Apakah Opini Dilarang Total dalam Berita?
Bukan dilarang, melainkan harus diletakkan pada tempat yang benar.
Jurnalis tidak boleh memasukkan opininya sendiri ke dalam tubuh berita lempang (straight news). Namun, jurnalis boleh mengutip opini orang lain sebagai narasumber, asalkan diberi tanda kutip dan disebutkan identitasnya secara gamblang.
- Salah (Opini Jurnalis): "Kenaikan harga sewa loker sekolah sangat membebani siswa."
- Benar (Kutipan Fakta): "Rani, siswi kelas 7B, mengaku keberatan dengan kenaikan harga sewa loker. 'Uang jajan saya jadi berkurang untuk bayar iuran,' tuturnya pada Selasa (15/9)."
Tantangan Ruang Redaksi: "Saring Kata Sifatmu"
Ambil pensilmu dan periksa 3 kalimat di bawah ini. Temukan kata yang membuat kalimat tersebut menjadi opini, lalu ubah menjadi kalimat berita faktual berbasis pandangan mata:
- "Perpustakaan sekolah suasananya menyeramkan dan penjaganya galak."
- "Upacara bendera tadi pagi berjalan sangat luar biasa dan menyentuh hati."
- "Tugas proyek IPA yang diberikan bu guru terlalu banyak dan bikin stres."
Bandingkan hasil revisimu dengan teman di sebelahmu. Apakah kalimat barumu sudah murni merekam fakta seperti sebuah lensa kamera?
Anda telah menyelesaikan 2 dari 20 Panduan Jurnalistik Lengkap untuk Pemula
0 Komentar
Aturan Berkomentar:
Post a Comment