Janganlah menyombongkan kelebihan yang kita miliki, karena setiap makhluk diciptakan dengan keunikan dan keterbatasan masing-masing.
Kisah ini bisa menjadi pengingat bagi pembaca Kumpulan Tulisan 25 bahwa "Menjadi hebat bukan berarti harus menjadi yang terbaik di segala bidang, melainkan memahami bahwa kita semua setara dalam ketergantungan kita pada sumber kehidupan (energi/Tuhan).
Binatang Super (Pelajaran tentang Energi dan Kesetaraan)
DONGENG FABEL | BINATANG SUPER - Hari masih pagi sekali, langit pun masih terlihat gelap. Pak Matahari baru mulai membuka matanya. Menggeliat-geliat memancarkan sinarnya keseluruh alam.
“Hoah…Selamat pagi dunia,” teriaknya. Beno si Ayam jantan pun terbangun dia segera berteriak lantang,
"kuku-ruyuuuuk, ayo bangun, ayo, semua bangun," teriaknya penuh semangat meskipun dengan mata yang masih sedikit terpejam.
Kenari, Jalak, Nuri, dan Kutilang pun segera bersahut-sahutan membangunkan semua penghuni bumi.
“Citt, cuit, cuit, cit cit,cuit…”Ayo bangun semua, mereka terbang kesana kemari menari dan bernyanyi. Ramai sekali suara mereka.
Diantara keramaian penghuni hutan, hanya Miki si tikus dan Pigi si babi hutan yang masih tertidur lelap. Semalaman mereka habis mencari makan. Siang adalah waktunya mereka tidur. Rombongan semut tampak sudah berbaris dengan rapi, bekerja membawa bahan makanan untuk anak-anak mereka di dalam sarang. Kupu-kupu mulai beterbangan mengelilingi bunga-bunga yang mulai menggeliat bangun.
Di sudut hutan tampak Harimau si raja hutan dan Elang sedang bertengkar. Elang merasa kekuatannyalah yang paling perkasa dibandingkan dengan Harimau maupun binatang lainnya. Si Raja hutan pun tak mau kalah.
“Kekuatan ku lah yang paling hebat maka, hanya aku yang mendapat julukan si Raja Hutan!” ucapnya dengan nada bangga.
“Semua mahluk di hutan ini tunduk kepadaku. Akulah yang terkuat di hutan ini,” kata Harimau setengah berteriak.
Si Elang tak mau kalah,” kau boleh berbangga hati,di daratan engkau yang paling ditakuti tapi kau tetap tak bisa terbang? Kau tak punya kekuatan super untuk terbang seperti aku!”Teriak elang dari atas pohon.
Pohon-pohon pun merasa terganggu dengan pertengkaran antara Harimau dan Elang. Pohon beringin yang terbesar berkata dengan suara parau. “ Sudah lah kalian tak akan selesai berdebat seperti itu, lebih baik kalian cari si burung hantu, dia pasti bisa menjelaskan dan menentukan siapa yang paling hebat diantara kalian.
Atas saran pohon beringin,berangkatlah mereka mencari Burung Hantu. Di puncak pohon yang tinggi, burung hantu sedang terkantuk-kantuk ketika, Harimau dan Elang memanggilnya.
“Heiii burung hantu, cepat turun, aku mau bicara,” teriak harimau.
“Huuh... ada apa sih kalian mengganggu jam tidur ku,” sahut burung hantu dengan kesal.
“ Kami mau minta pendapat mu, sebenarnya siapa yang kekuatan nya paling super diantara kami,” jawab elang.
“Mahluk yang punya kekuatan adalah yang di dalam tubuhnya mengalir energi. Dengan energI itu semua mahluk mempunyai kekuatan untuk bergerak, berlari bahkan terbang. Sebenarnya tidak ada satu pun dari kalian yang bisa dibilang hebat.” Si burung hantu memberi pemahaman.
Analisis Unsur Intrinsik Cerita
1. Judul Cerita
2. Tema
Alasan: Cerita ini membahas perdebatan antara dua hewan yang merasa paling hebat (Harimau dan Elang), yang kemudian dipatahkan oleh penjelasan logis bahwa semua kekuatan berasal dari sumber yang sama, yaitu energi.
3. Tokoh / Penokohan
- Harimau: Sombong, merasa paling berkuasa di daratan, dan haus akan pengakuan sebagai raja hutan.
- Elang: Angkuh, merasa superior karena kemampuan terbangnya, dan suka meremehkan kemampuan hewan darat.
- Burung Hantu: Bijaksana, tenang, dan berpengetahuan luas. Ia berperan sebagai penengah yang memberikan edukasi.
- Pohon Beringin: Dewasa, tenang, dan pemberi solusi.
- Beno (Ayam Jantan), Kenari, Jalak, Semut, dll: Tokoh figuran yang menggambarkan harmoni dan kedisiplinan alam di pagi hari.
4. Latar (Setting)
- Tempat: Di dalam hutan yang rimbun, sudut hutan, dan di puncak pohon yang tinggi.
- Waktu: Pagi hari sekali saat matahari baru mulai terbit.
- Suasana: Awalnya ceria dan ramai (suasana pagi), kemudian berubah menjadi tegang (saat pertengkaran), dan berakhir dengan suasana edukatif (penjelasan Burung Hantu).
5. Alur (Plot)
Dimulai dengan gambaran suasana pagi di hutan, munculnya konflik berupa perdebatan antara Harimau dan Elang, perjalanan mencari penengah atas saran Pohon Beringin, hingga resolusi berupa penjelasan dari Burung Hantu bahwa tidak ada yang benar-benar "super" karena semua bergantung pada energi.
6. Sudut Pandang
Pengarang menceritakan segala aktivitas di hutan secara detail, mulai dari matahari yang "menggeliat", hewan-hewan yang masih tidur, hingga isi perdebatan dan pemikiran para tokohnya.
7. Amanat
- Janganlah menyombongkan kelebihan yang kita miliki, karena setiap makhluk diciptakan dengan keunikan dan keterbatasan masing-masing.
- Kekuatan fisik bukanlah segalanya; memahami hakikat kehidupan dan sumber energi jauh lebih penting.
- Di atas langit masih ada langit; sehebat apa pun kita, kita tetaplah makhluk yang bergantung pada hukum alam (energi) untuk bertahan hidup.
- Hargailah peran setiap makhluk di ekosistem, sekecil apa pun peran tersebut (seperti semut yang rajin atau ayam yang membangunkan dunia).
0 Komentar
Aturan Berkomentar:
Post a Comment